Sabtu, 17 Maret 2012

Pelatihan Mendongeng

Hari ini pelaksanaan pelatihan T-Bone(Teater Boneka Psikologi Unair) degan pembicara Ki Heru, sang pendongeng anak. Cukup lama kami menunggu, ahirnya beliau datang dengan tiga ibu-ibu, kakak angkatan Psikologi Unair dan juga dua orang laki-laki. Beliau memasuki ruangan dengan memegang pundak kiri salah seorang ibu-ibu itu secara perlahan. Cling, stereotype saya adalah “beliau tuna netra”. Namun setelah beliau duduk dan berbicara dengan rekan-rekannya, stereotype itu pun memudar, dalam hati “ohh, beliau tidak buta rupanya”. Kemudian belian memperkenalkan diri, dengan profil yang sangat menarik dan telah banyak mempunyai pengalaman dalam berbagai hal terutama anak-anak. Beliau mengatakan bahwa seharusnya beliau mengucapkan selamat malam saj, bukan selamat pagi, karena bagi beliau semua waktunya seperti malam = gelap. Glek! Saya kembali memungut stereotype pertama saya, ternyata beliau memang benar-benar seorang tuna netra. Subhanallah, sosok itu baru beberapa menit aku mengenalnya namun beliau sudah banyak memberikanku pelajaran berharga, mungkin juga bagi kami yang berada di ruangan itu. Ternyata beliau bergelar SH, namun dunia hokum bukan jatidirinya kemudian beliau mulai menyelami dunia anak-anak. Beliau pernah menjadi guru TK selama 8 tahun, pernah bergabung dengan teater besar seperti W.S. Rendra, dan hingga sekarang menjadi seorang pendongeng yang mempunyai yayasan sosial J Betapa hebatnya beliau dengan segudang prestasi, meski baginya hanya ada satu warna yang beliau lihat, yaitu hitam dan gelap. Sebenarnya sejak lahir beliau bisa melihat normal, namun setelah bekerja beliau mengalami gangguan mata dan beberapa penyakit mata lainnya yang saya lupa namanya hingga membuat beliau tetap mendongeng namun tak bisa melihat wajah antusias anak-anak yang mendengarkan beliau.
Sungguh hebat, beliau bisa mengubah suaranya menjadi banyak macam, mulai dari suara keci, besar, suara ibu guru, suara kakek, nenek, hingga logat madurapun sangat jago, maklum beliau adalah putera Sumenep, Madura. Hehehe
Awal pertemuan, beliau menyuruh kami berhitung. Kemudian menyanyikan lagu anak-anak dengan gaya anak-anak pula. Kami dituntut menjadi anak-anak dan kamipun dengan senang hati melakukannya, meski jika dipikir-pikir sepertinya kami semua adalah anak-anak luar biasa autis atau hiperaktif. Hahahahaha
Pertama kali, beliau menyuruh nomer 7 menyanyikan lagu balonku. Dan nomer 7 adalah Naili, nyaris, aku nomor 6. Beliau juga menyuruh benulis kegiatan kita seharian kemarin. Kamipun mencoba merecall memori tentang kemarin juga disertakan dialog. Beliau secara random menyuruh diantara kami mendongeng setelah diberi contoh oleh Bu Ifa. Sungguh, lucu-lucu sekali ekspresi mereka, tenyata didalam ruangan ini memang mahasiswa yang tak suka demo namun berpotensi menjadi pendongeng. Hihihi
Nah ini acara yang paling sip. Mengatur pernafasan dengan cara meditasi, dengan lagu-lagu yang menenangkan serta komando Ki Heru yang menyenangkan. Setelah beberapa saat, kami diminta untuk menutup mata dengan penutup mata. Beliau menyuruh kami tetap mengatur pernafasan kami dan jika sudah ada komando maka kami harus melakukan apa yang beliau suruh. Beliau menyuruh kami menjadi seorang anak kecil, menjadi tentara, menjadi penyanyi dangdut, menjadi orang yang marah, tertawa, kemudian menangis, kemudian tertawa, kemudian menjadi orang gila, menjadi penari balet dst.  Semua kita lakukan sesuai apa yang ada dibenank kita, menjadi diri sendiri meski memerankan peran orang lain. Ki heru ingin kami menghayati setiap peran yang kami tampilkan, juga dengan karakter tiap tokoh yang unik dan berbeda. Lalu ada refleksi tentang apa yang kami lakukan tadi. Dan terahir, beliau mendongeng untuk kami. Benar-benar menyenangkan, saya ingin kembali menjadi anak kecil yang selalu ingin mendengarkan dongeng tiap mau tidur, seperti pembukaan perkenalan Ki Heru disambut oleh lagu Wayang – Dongeng.
Entahlah, saya pikir masih banyak hal yang saya dapat dari pelatihan I tadi. Namun saya sudah banyak menjabarkan lewat tulisan, saya tidak ingin anda yang membaca tak berminat membaca karena terlalu panjang. Hehehehe
Selamat berjuang kawan-kawan, untuk melestarikan budaya anak-anak yang mulai teracuni oleh modernisasi yang menghilangkan karakter bangsa kita. Selamat menikmati tenggelam dalam dunia anak-anak. Selamat menjadikan ilmu kita sebagai ilmu yang bermanfaat dan dengan ikhlas kita berikan pada orang lain. Selamat bertempur melawan segala rintangan untuk tetap bisa memeluk anak-anak yang membutuhkan kita. Selamat menjadi calon bapak dan ibu yang baik J KITA BISA. Aamiin

Poto dulu sama hand puppet n finger puppet with Naili >.< padahal itu punya Nurul. hehehe 

Ini dia, Ki Heru Cokro (nama senimannya kata beliau XD).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar